SocioLife, Jakarta (11/03/2025) Bukan untuk menakuti Bor Sis Lifers yang ini menjadi Entrepreneur, tapi faktanya kini banyak perusahaan start-up tumbang di tengah persaingan bisnis hingga akhirnya tutup alias bangkrut. Sekitar 90% gagal dan hanya 1% yang berkembang jadi unicorn.
CB Insights secara rutin mengumpulkan laporan post-mortem yang biasa dirilis start-up saat tutup. Mengutip dari entrepreneur.uai mereka kemudian meneliti fenomena berulang dalam laporan-laporan tersebut untuk mencari alasan yang paling sering membuat startup gagal. Inilah lima alasan yang paling sering ditemukan.
Tidak ada kebutuhan pasar
Menurut 42 persen laporan yang ditinjau CB Insights, para founder start-up merasa gagal karena solusi mereka tidak dibutuhkan oleh pasar yang dituju. Dengan kata lain, masalah yang ingin mereka pecahkan tidak cukup mendesak.
Kehabisan dana
Yup! Sekitar 29% laporan, dana untuk operasional habis sebelum tujuan profit diiperoleh.
Komposisi tim enggak tepat
Namun, 23 persen startup yang ditinjau CB Insights merasa gagal dalam aspek ini. Banyak startup yang merasa tidak berhasil karena, misalnya, tidak merekrut Chief Marketing Officer sejak awal atau tidak memiliki founder yang ahli dalam aspek bisnis.
Sulit berkompetisi
Meski “jangan terlalu fokus pada kompetitor” sudah menjadi semacam “mantra” bagi dunia startup saat ini, 19 persen startup gagal karena kurang mempertimbangkan kompetitor. Faktanya, jika sebuah ide atau pasar sudah terbukti potensinya, kamu harus siap menemui banyak pesaing.
Masalah harga atau biaya
Perusahaan yang baik harus bisa mematok harga produk yang cukup tinggi untuk menutup biaya sekaligus cukup rendah untuk menarik pelanggan. Namun, banyak startup masih mengalami kesulitan; 18 persen startup gagal karena sulit menyeimbangkan harga dengan biaya.
(Boris)