SocioLife, Jakarta (29/08/2025) Jika Provinsi Riau punya Festival Pacu Jalur yang mampu menghipnotis orang-orang di belahan dunia dengan ajang perahu dayungnya, berbeda dengan Sulawesi Barat (SumBar) hadir dengan Festival Sandeq Silumba. Event ini bukan sekadar kompetisi perahu layar, melainkan perayaan identitas dan budaya maritim masyarakat Mandar yang sarat makna.
Melansir situs kemenpar.go.id, Sandeq—perahu tradisional khas Mandar—berarti “runcing” dalam bahasa lokal, merujuk pada haluannya yang tajam. Desainnya yang aerodinamis membuat sandeq mampu melaju hingga 15–20 knot meski tanpa mesin, bahkan melawan arah angin.

Festival Sandeq Silumba (Foto: kemenpar.go.id)
Lebih dari sekadar alat transportasi, sandeq adalah simbol spiritual dan filosofi hidup masyarakat Mandar: keberanian, keterbukaan, dan keteguhan menghadapi tantangan. Maka jangan heran, Bor Sis kalau datang ke event ini, bakal melihat ritual adat di setiap pelayaran Sandeq, alasannya untuk keselamatan. Karena laut bagi orang Mandar bukan hanya sumber rezeki, tapi juga ruang sakral yang dihormati.
Festival Sandeq Silumba yang berlangsung Pantai Bahari, Polewali, Mandar, Sumbar pada 21-26 Agustus lalu ini melibatkan pelayar (passandeq) dari Polewali Mandar, Majene, hingga Mamuju, menempuh jalur sejauh 231 kilometer.
Gelaran ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung ketangguhan sandeq beradu di lautan.
Bagi para pencinta wisata budaya dan bahari, Festival Sandeq Silumba adalah alasan kuat untuk menjejakkan kaki di Sulawesi Barat. Di sini, Bor Sis enggak hanya melihat perahu layar tradisional menari di atas ombak, tapi juga merasakan denyut kehidupan maritim yang masih begitu dekat dengan alam.
(BoRil)
BACA JUGA:
Kebun Binatang Ragunan Bakal Buka Malam? Menarik untuk Family Time
Liburan di Pantai Oetune, Berasa di Gurun Pasir