SocioLife, Jakarta (28/12/2025) Bor Sis Lifers bayangkan berangkat ke kantor atau menembus medan sulit tanpa harus terjebak kemacetan. Di masa depan, skenario itu bukan lagi khayalan berkat kehadiran jetpack atau alat terbang pribadi.
Teknologi penerbangan individual berukuran ringkas ini kini mulai mendekati realisasi, seiring semakin banyaknya perusahaan teknologi dunia yang mengembangkan solusi terbang bebas untuk satu orang.
Sejumlah nama besar tercatat aktif di sektor ini, mulai dari Guangdong XPeng dan KuangChi Science (China), JetPack Aviation dari Amerika Serikat, Zapata Racing (Prancis), Gravity Industries (Inggris), hingga Martin Aircraft (Selandia Baru). Ada pula Hoversurf (Rusia) yang mengeksplorasi teknologi jetpack dan VTOL (Vertical Take-Off and Landing) dengan pendekatan berbasis drone.

Menariknya, setiap pengembang memiliki istilah dan pendekatan berbeda untuk produknya. Gravity Industries, misalnya, mengembangkan Jet Suit, yakni setelan terbang dengan mesin jet mini di punggung dan lengan. Perusahaan yang didirikan Richard Browning, penemu Daedalus Flight Pack ini mengandalkan kontrol gerak tubuh untuk bermanuver di udara.
Sementara itu, JetPack Aviation dikenal lewat seri JB-9, JB-10, hingga JB-11, jetpack berbasis mesin jet kecil yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal. Di Prancis, Zapata Racing mencuri perhatian lewat Flyboard Air, platform terbang bermesin jamak yang menyerupai jetboard futuristis.
Dari sisi fungsi, jetpack, jet suit, maupun jetboard tidak hanya dikembangkan untuk hiburan atau atraksi teknologi. Arah pengembangannya kini merambah operasi penyelamatan, patroli keamanan, hingga kebutuhan militer.
Dalam kondisi darurat, alat terbang pribadi dinilai mampu membantu petugas menjangkau area ekstrem seperti pegunungan, gedung tinggi, atau wilayah bencana yang sulit diakses kendaraan konvensional.
Meski terlihat revolusioner, teknologi jetpack masih menghadapi sejumlah tantangan. Durasi terbang yang singkat, konsumsi bahan bakar tinggi, serta aspek keselamatan menjadi pekerjaan rumah utama. Selain itu, regulasi penerbangan juga menjadi faktor krusial sebelum jetpack dapat digunakan secara luas di ruang publik.
Di China, misalnya, pengembangan jetpack umumnya mengandalkan mesin jet mini atau sistem turbin, yang dipasang di punggung atau terintegrasi dalam pakaian khusus. Beberapa prototipe diklaim mampu terbang selama beberapa menit dengan kecepatan puluhan kilometer per jam, bergantung pada kapasitas bahan bakar dan bobot pengguna. Desainnya terus disempurnakan agar lebih stabil, ringan, dan mudah dikendalikan.
Ke depan, dengan dukungan riset intensif dan investasi besar, teknologi jetpack diprediksi akan semakin matang. Bukan tidak mungkin, dalam satu atau dua dekade mendatang, alat terbang pribadi ini menjadi bagian dari solusi mobilitas udara jarak pendek, sekaligus mengubah cara manusia bergerak di kawasan urban maupun medan ekstrim.
(BoRil)
BACA JUGA:
Xiaomi Watch 5 Siap Meluncur, Mewah dan Canggih
Mau Road Trip Aman? Perhatikan Tips ini