SocioLife, Jakarta (28/11/2025) Indonesia kembali berduka (Baca; banjir di Bali, September), kini musibah serupa terjadi di sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana alam ini mengakibatkan akses darat di daerah tersebut dilaporkan terputus, sehingga membuat distribusi logistik tidak bisa dilakukan dengan jalur biasa.
Dilansir dari antaranews.com (27/11), Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) menjelaskan, pemerintah menyiapkan pengiriman bantuan lewat jalur udara dan perairan sebagai langkah prioritas. Hal ini dilakukan karena masih banyak wilayah yang terisolasi dan tidak dapat dijangkau kendaraan.
“Dalam kondisi tanggap darurat kita tidak bisa menunggu sampai perbaikan akses darat selesai. Jadi, kita akan mengirimkan bantuan juga lewat udara dan perairan,” ucap Pratikno dalam konferensi pers usai rapat terbatas di BNPB Jakarta, Kamis, dikutip dari @antaranewscom.
Sebab itu, pemerintah kini tengah memetakan wilayah yang paling membutuhkan bantuan cepat, termasuk daerah dengan kerusakan infrastruktur parah, permukiman terisolasi, dan lokasi yang masih menghadapi ancaman cuaca buruk.
Pendistribusian logistik akan menyasar kebutuhan mendesak seperti makanan, obat-obatan, selimut, tenda darurat, dan peralatan evakuasi.
Berdasar analisis meteorologi terbaru menunjukkan, kawasan Sumatera bagian utara hingga barat masih berpotensi mengalami cuaca ekstrem, sehingga memperlambat proses perbaikan jalur darat. Kondisi ini membuat skema distribusi alternatif termasuk udara dan laut menjadi opsi yang harus dipercepat.
Mengikuti arahan dari Presiden Prabowo Subinato, pemerintah memastikan upaya tanggap darurat harus dilakukan secepat mungkin dengan memanfaatkan seluruh sumber daya, baik dari BNPB, TNI, Polri, Basarnas, hingga pemerintah daerah. Koordinasi lintas lembaga terus diperkuat agar penanganan bencana berlangsung efektif.
Stay safe Bor Sis!
BACA JUGA:
Ekonom UI: Wisata Kesehatan RI Punya Potensi Besar, Asalkan “Patient-Centered”
Tidak Cantumkan Peneliti Indonesia, Universitas Harvard Dikritik Netizen