WoMind! Mariam Abu Daqqa: Suara Kebenaran dari Gaza yang Dibungkam Bom - sociolifemedia.com
Connect with us

Lifestyle

WoMind! Mariam Abu Daqqa: Suara Kebenaran dari Gaza yang Dibungkam Bom

Mariam Abu Daqqa Jurnalis wanita Palestina yang gugur dalam meliput berita perang di Gaza (Foto: Instagram @almost.co)

SocioLife, Jakarta (03/09/2025) Dunia jurnalisme kembali berduka. Mariam Abu Daqqa, Jurnalis wanita muda Palestina (32 tahun), menutup mata selamanya akibat serangan udara tantara Israel yang menghantam Rumah Sakit Nasser di Gaza Selatan, pekan lalu.

Dilansir laman theguardian.com (/9), pekan lalu, lima Jurnalis Palestina  (Hussam al-Masri, Mariam Abu Daqqa, Mohammed Salama, Ahmed Abu Aziz, dan Moaz Abu Taha) meninggal dalam serangan ganda di Rumah Sakit Nasser oleh militer Israel.

Jumlah total Jurnalis dan pekerja media yang wafat dalam konflik ini sejak Oktober 2023 menjadi setidaknya 189 orang, menurut Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ). Kelompok lain menyebutkan jumlah korban jauh lebih tinggi.

Sementara, Mariam dikenal sebagai sosok pemberani yang tak pernah berhenti menyalurkan suara rakyat Palestina di tengah genosida. Dalam sebuah video dokumenter “Sutra: Not A Shield”, dia berucap, “Kadang aku bertanya, mengapa aku memilih profesi ini? Tapi di saat yang sama, aku semakin terikat dengannya.” Ujarnya sebelum Ia wafat seperti terlihat dalam video postingan Instagram @almost.co.

Mariam memulai kariernya sebagai fotografer pada (2016). Empat tahun kemudian, Ia bergabung dengan Independent Arabic, lalu bekerja untuk Associated Press selama perang di Gaza.

Perjalanan profesionalnya dibayar mahal. Ibunya pun turut menjadi korban akibat serangan Israel, dan ia terpaksa mengevakuasi putranya yang bernama Ghaith (12 tahun), ke Uni Emirat Arab demi keselamatan. Namun Mariam tetap memilih bertahan di Gaza, meliput setiap hari, meski dengan risiko kehilangan segalanya.

Singkat cerita, diberitakan pada 25 Agustus, Mariam bertugas melaporkan serangan Israel ke Rumah Sakit Nasser yang sebelumnya menghilangkan nyawa Jurnalis Hussam al-Masri. Namun, sesaat setelah Mariam tiba di lokasi bersama tim medis dan Jurnalis lain, rudal kedua (double-tap strike) menghantam titik yang sama dan menambah jumlah korban termasuk pekerja kemanusiaan dan media.

Ilustrasi Mariam Abu Daqqa bersama anak lelakinya (Foto: Instagram @aljazeeraenglish)

Surat Perpisahan untuk Ghaith

Entah ini sebuah isyarat atau bukan, sebelum wafat Mariam sempat menuliskan surat perpisahan. Pesannya penuh cinta sekaligus duka mendalam berbunyi kurang lebih seperti ini.

“Ghaith, jantung dan jiwa ibumu. Doakan aku, jangan menangis. Aku ingin kau selalu membuatku bangga, rajin belajar, dan sukses. Jika kelak kau menikah dan memiliki seorang putri, berilah ia nama Mariam, agar aku tetap hidup dalam dirimu.”

Mariam juga pernah bersuara keras kepada dunia, ada risiko besar yang dihadapi para Jurnalis di Gaza. Untuk perlunya perlindungan internasional bagi Jurnalis, agar mereka dapat menjalankan tugas profesional dan kemanusiaan tanpa dibungkam.

Kini, Mariam Abu Daqqa bukan hanya simbol keberanian pers Palestina, tetapi juga pengingat pahit bahwa kebenaran kerap menjadi target dalam perang.

(Boris)

BACA JUGA:

WoMind! Editia Herningtias: Bikin Bahasa dan Budaya Indonesia Mendunia

WoMind! Vendryana Ayu Larasati: Dari Dapur Jerman ke Panggung Digital Dunia

 

Trending

Editorial Team

         
             

Head Office

             

Antasari Park (2nd Floor)

             

JL Pangeran Antasari No.61

             

Cipete Utara - Kebayoran Baru

             

Jakarta Selatan

           
       
           

Contact Us

           

redaksi@sociolifemedia.com

       
 

Sociolife Media Copyright 2025