SocioLife, Jakarta (30/07/2025) Bor Sis pernah enggak bayangin ada lho seorang Presiden yang tinggal bukan di Istana tapi di apartemen? Itulah Halimah Yacob, Presiden perempuan pertama Singapura yang nggak cuma powerful, tapi juga super humble dan dekat banget sama rakyatnya.
Sosok WoMind kali ini, sociolifemedia coba menggulik singkat tapi padat dari kisah hidupnya Halimah Yacob, yang bila Bor Sis cari di internet namanya muncul mesin pencarian. Dilansir Wikipedia, wanita kelahiran 23 Agustus 1954 (70 tahun) ini jauh dari kesan hidup mewah atau dalam kondisi orang berada.
Singkat cerita, ayahnya meninggal waktu dia masih kecil. Dia bantu ibunya jualan nasi padang buat bantu ekonomi keluarga. Tapi semangat belajarnya nggak pernah padam.
Dari jualan nasi sampai jadi pemimpin negara?
Halimah Yacob mengambil kuliah hukum di National University of Singapore (NUS), dan bahkan dapet gelar Master dan kehormatan dari kampus yang sama.
Sebelum jadi pejabat, Halimah aktif di dunia buruh di National Trades Union Congress (NTUC), bela hak-hak pekerja, apalagi soal wanita & lansia. Tahun 2001, dia terjun ke politik lewat PAP (partainya Lee Kuan Yew). Fast forward ke 2013, dia jadi Speaker Parlemen perempuan pertama di Singapura. Prestasi legit banget.
Pada 7 Agustus 2017, dia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua dan anggota dan dari keanggotaannya di PAP untuk maju sebagai kandidat dalam Pemilihan Presiden Singapura. Pada 13 September 2017, Yacob dinyatakan sebagai Presiden terpilih melalui sebuah pemilihan walkover, karena tidak ada calon presiden lainnya yang dikeluarkan Sertifikat Kelayakan.

Halimah Yacob, mantan Presiden Singapura dengan kegigihan tinggi.
Ibu dengan lima anak ini resmi dilantik sebagai Presiden Singapura untuk masa jabatan (2017-2023). Nggak cuma wanita pertama, tapi juga Melayu pertama di era modern, dan satu-satunya presiden yang dulunya tinggal di Housing and Development Board (HDB) flats adalah perumahan umum di Yishun, Singapura yang dikelola oleh pemerintah.
Last but not least, kesederhanaan dan sikap rendah hati serta empati merupakan ciri kepemimpinan di Singapura. Halimah bukan cuma simbol. Dia gaspol urus isu nyata kayak kesetaraan gender, hak disabilitas, mental health, harmoni antaragama juga digital inclusion.
Udah pensiun dari kursi presiden di 2023, Halimah nggak rebahan, Ia langsung aktif lagi jadi Kanselir di Singapore University of Social Sciences (SUSS), dan jadi patron di Securities Investors Association.
Lalu legacy-nya buat Gen Z dan Milenial apa? Sosok Halimah itu membuktikan kalau leadership tuh soal hati, bukan cuma status. Dia humble, kerja nyata, dan selalu mikirin rakyat. Setuju?
(BoRil)
BACA JUGA:
WoMind! Perspektif Wanita Menyoal Dunia Pendidikan
WoMind! Asma Elbadawi, Sukses Patahkan Larangan Pebasket Wanita Berhijab
Inovasi Digital di GIIAS 2025: Suzuki, Isuzu, dan Hyundai Tampil Total