SocioLife, Jakarta (26/11/2025) Terkini, Oxford University, Inggris ramai dibicarakan netizen, bukan karena nama besar kampusnya melainkan kritikan keras dari warga +62. Menyusul postingan di platform sosmed X, yang enggak menyebutkan nama peneliti Indonesia atas penemuan bunga langka Rafflesia Hasseltii.
Publik melihat ini bukan sekadar soal nama, tetapi soal etika kerja sama riset antara pihak barat dan peneliti negara berkembang.
Dikutip inilah.com (24/11), Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta turut menyoroti isu ini. “Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi “bukan NPC (Non-Playable Character). Mereka adalah ilmuwan berkontribusi nyata, bukan sekadar figuran dalam penelitian.” Tegas Anies Baswedan, yang juga pemerhati dunia Pendidikan di Tanah Air.
Fyi, kritik publik enggak hanya soal hilangnya nama peneliti Indonesia, tetapi juga menyangkut persoalan etika akademik dan transparansi kerja sama riset. Banyak pihak berpendapat bahwa mencantumkan kontribusi ilmuwan lokal merupakan bagian dari penghargaan terhadap kerja ilmiah dan menunjukkan praktik kolaborasi yang setara.
Kasus ini kembali membuka diskusi mengenai hubungan akademik antara institusi Barat dan peneliti dari Global South, terutama dalam penelitian biodiversitas yang seringkali melibatkan ilmuwan lokal sebagai pihak yang memahami konteks lapangan.
Perdebatan di media sosial mendorong harapan agar institusi pendidikan global lebih sensitif dan akurat dalam mengapresiasi kontribusi mitra risetnya. Pengakuan terhadap peneliti lokal dianggap penting untuk mendorong kolaborasi yang lebih setara, etis, dan berkelanjutan.
Gimana Bor Sis?
(Boris)
BACA JUGA:
Siswa SMP Surabaya Ubah 3 Ton Kulit Bawang Putih Jadi Tinta Ramah Lingkungan
Surge Resmi Buka Pra-Pendaftaran Internet 5G FWA Murah, Gen Z Auto Cuan!