SocioLife, Jakarta (09/09/2025) Terkini, tim ilmuwan dari Chinese Academy of Sciences (CAS) mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI: Artificial Intelligence) yang mengklaim lebih baik dari AI generative (ChatGPT) dengan arsitektur Transformer-nya. Tim Cas memperkenalkan SpikingBrain-1.0—model kecerdasan buatan berskala besar yang meniru cara kerja neuron otak.
Dilansir dari antaranews.com (8/9), SpikingBrain-1.0 (SB 1.0) ini murni mengadopsi GPU (Graphics Processing Unit) buatan dalam negeri, SB 1.0 mampu berlatih hanya dengan 2% data prapelatihan yang biasanya dibutuhkan model AI besar, namun tetap menyaingi performa beberapa model open-source dalam pemahaman bahasa dan penalaran.
Tim ilmuwan CAS mengungkapkan, kelebihan SB 1.0 ini mampu menghasilkan token pertama hingga 26,5 kali lebih cepat dibandingkan Transformer pada konteks ultra-panjang (satu juta token). Hal ini membuka peluang efisiensi besar untuk tugas kompleks, mulai dari analisis dokumen hukum atau medis, riset fisika partikel, hingga pemodelan DNA.
Menurut Xu Bo, Direktur Institut Automasi CAS, pendekatan non-Transformer ini bisa menjadi pijakan baru bagi desain chip neuromorfik generasi berikutnya yang jauh lebih hemat daya.
Sebelumnya, tim yang sama telah memperkenalkan chip neuromorfik Speck dengan konsumsi daya istirahat hanya 0,42 mW (jauh lebih efisien dibandingkan sistem AI konvensional).
Sebagai perbandingan, otak manusia hanya membutuhkan sekitar 20 watt untuk mengoperasikan jaringan saraf yang sangat kompleks.
(Boris)
BACA JUGA:
BMW Kolaborasi dengan Quacomm Luncurkan Snapdragon Ride Pilot di iX3 Baru
Blood Moon, Keindahan dan Ilmu di Langit Malam