SocioLife, Jakarta (07/12/2025) Jika di Indonesia, pengguna kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) mendapatkan berbagai keistimewaan termasuk insentif bebas pajak tahunan, kondisi berbeda di Inggris. Pasalnya, Pemerintah Inggris resmi mengumumkan skema pajak baru untuk kendaraan tanpa emisi dan rendah emisi yang akan berlaku mulai April 2028.
Kebijakan ini menandai perubahan besar dalam ekosistem otomotif Inggris sekaligus upaya menutup potensi kehilangan pendapatan dari pajak bahan bakar yang selama ini menjadi sumber utama kas negara.
Mengutip laporan ArenaEV (28/11), skema pajak tersebut akan dibebankan berdasarkan total jarak yang ditempuh pemilik kendaraan setiap tahun. Rinciannya, mobil listrik baterai (BEV) sebesar 3 pence per mil, mobil hibrida plug-in (PHEV) 1,5 pence per mil.
Dengan rata-rata jarak tempuh pengguna EV di Inggris sekitar 24.140 km (±15.000 mil) pada periode 2028–2029, pemilik BEV akan membayar pajak sekitar 528 euro per tahun. Tarif ini akan terus naik mengikuti inflasi.
Salah satu isu krusial dari kebijakan baru ini adalah akurasi pemantauan jarak tempuh. Pemerintah Inggris mempertimbangkan, pemeriksaan odometer wajib saat inspeksi tahunan dan sistem pelacakan tambahan untuk mencegah manipulasi jarak.
Wacana kebijakan ini tentu saja memicu perdebatan di kalangan produsen mobil, asosiasi industri, hingga komunitas energi.
Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT) menilai kebijakan ini dapat diterima selama tujuannya jelas, tetapi memperingatkan bahwa pajak berbasis jarak bisa melemahkan minat masyarakat terhadap EV.
(Boris)
BACA JUGA:
Ratusan Pengguna Porsche Panik Mobilnya Mati Mendadak di Rusia
Toyota New Veloz Hybrid EV Jajal 4.000 Km Lewat Program “Lintas Nusa”