SocioLife, Jakarta (02/01/2026) Unik! Di saat banyak orang di berbagi penjuru dunia merayakan malam pergantian tahun baru 2026 dengan semarak dan meriah namun faktanya enggak semua negara merayakan tahun baru dengan kembang api atau meniup terompet.
Mengutip Go2Tutors pada (01/01), berikut sejumlah negara yang tidak merayakan tahun baru pada 1 Januari:
China
Bagi sebagian besar masyarakat Tiongkok, pergantian tahun Masehi (dari 20025 ke 2026). Warga di China yang berusia muda kebanyakan kongkow di distrik perbelanjaan untuk menonton kembang api atau menghadiri pesta, namun secara umum, mereka lebih menunggu Tahun Baru Imlek atau yang dikenal sebagai Festival Musim Semi.
Di mana ratusan juta orang pulang kampung untuk berkumpul kembali dengan keluarga mereka. Perayaan berlangsung selama lima belas hari, diakhiri dengan Festival Lentera.
Saat itulah keluarga Tionghoa memberikan amplop merah, berbagi jamuan makan yang mewah, dan benar-benar menandai peralihan dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Vietnam
Lalu Vietnam yang kabarnya penduduk lebih menantikan Hari Raya Tết yang bertepatan dengan Imlek. Mereka akan melakukan persiapan yang biasanya memakan waktu selama berminggu-minggu.
Setiap orang akan membeli pakaian baru dan membersihkan rumah untuk mengusir nasib buruk. Nantinya, rumah akan dipenuhi dekorasi seperti bunga persik dan pohon kumquat.
Ethiopia
Ethiopia (Etiopia) sebuah negara yang terletak di bagian timur laut benua Afrika ini juga dikenal angti tiup terompet di malam pergantian tahun. Warga Ethiopia menggunakan kalendernya sendiri, yang selisihnya tujuh hingga delapan tahun dari kalender Gregorian (sistem penanggalan yang paling umum digunakan di dunia saat ini, juga dikenal sebagai kalender Masehi).
Tahun Baru Ethiopia yang disebut Enkutatash, jatuh pada tanggal 11 September atau 12 September selama tahun kabisat.
Perayaan ini menandai berakhirnya musim hujan dan dimulainya musim semi. Keluarga berkumpul untuk pesta, bertukar bunga, dan menyanyikan lagu-lagu tradisional.
Iran
Iran memiliki tahun baru yang disebut Nowruz dan telah dirayakan selama lebih dari 3 ribu tahun. Hari besar itu bertepatan dengan ekuinoks musim semi.
Keluarga menyiapkan meja upacara yang disebut Haft-sin, yang dihiasi dengan tujuh barang yang dimulai dengan huruf S dalam bahasa Persia. Anggota keluarga turut melakukan pembersihan musim semi secara menyeluruh.
Perayaan berlanjut selama tiga belas hari, diakhiri dengan piknik di luar ruangan pada Sizdah Bedar.
Arab Saudi
Kalender resmi Arab Saudi adalah kalender Hijriah. Tahun barunya jatuh pada hari pertama Muharram dalam kalender Islam.
Bagi muslim Saudi konservatif, merayakan tahun baru secara tradisional dianggap tidak pantas dan bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agama Islam.
Brunei Darussalam
Sama halnya dengan Arab Saudi, Sultan Brunei Hassanal Bolkiah juga melarang perayaan Natal dan Tahun Baru di depan umum sejak tahun 2014, dengan alasan perlunya melindungi agama Islam.
Menampilkan dekorasi, mengenakan pakaian meriah, atau berkumpul di depan umum untuk merayakannya dinilai bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.
(BoRil)
BACA JUGA:
Awal 2026 Bikin Senyum, Banderol Pertamax Resmi Turun
Honda Dukung Atlet Kursi Roda Raih Best Female di Para Sport Awards 2025