SocioLife, Jakarta (20/08/2025) Bor Sis mungkin nama pahlawan wanita Indonesia seperti Cut Nyak Dien, R.A. Kartini, Cut Nyak Meutia, dan Dewi Sartika populer di sekitar kita, faktanya ada sosok pejuang wanita yang terlupakan. Dia adalah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (1900–1969), Ia adalah seorang pendidik, pejuang kemanusiaan, serta anggota parlemen perempuan Indonesia.
Dkutip dari situs jatimtimes.com, wanita dengan panggilan Rahmah ini merupakan Syaikhah (syekh wanita) merupakan pahlawan wanita asal Minangkabau yang profilenya jarang muncul di pemberitaan media Nasional. Namun, memiliki pengaruh besar dalam dunia pendidikan sangat nyata.
Jejak Langkah dan Dedikasi dalam Pendidikan
Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Lil Banaat (Perguruan Diniyah Putri) di Padang Panjang, Sumatera Barat, sekolah agama khusus perempuan pertama di Indonesia. Tujuannya agar perempuan bisa mendapatkan pendidikan sesuai fitrahnya dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melansir dari Wikipedia, keberadaan Diniyah Putri ini pun menginspirasi Universitas Al-Azhar untuk membuka Kulliyatul Banat, fakultas yang dikhususkan untuk perempuan. Singkat cerita pada tahun 1955 Imam Besar Al-Azhar, Abdurrahman Taj mengunjungi Diniyah Putri dan pada 1957 saat Rahmah melakukan kunjungan balasan ke Kuliyatul Banat Ia mendapatkan gelar kehormatan “Syekhah”.

Ilustrasi foto Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah pahlawan wanita yang berani melawan kebijakan Belanda dan Jepang (Foto: Google)
Keberanian Rahmah enggak bisa dipandang sebelah mata, ketika ditawari subsidi oleh kolonial Belanda agar Diniyah Putri menjadi sekolah resmi, saat itu Rahmah menolak tawaran karena ingin menjaga lembaganya tetap menjadi milik umat dan tak terkontaminasi campur tangan pemerintah.
Di samping itu, pemegang tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana secara anumerta dari Pemerintah Indonesia pada (13 Agustus 2013) ini juga pernah menantang kebijakan pengerahan perempuan sebagai Gisaeng (wanita penghibur) saat penjajahan Jepang. Rahmah sukses membuat tempat prostitusi di Sumatera tutup.
Saat proklamasi kemerdekaan, Rahmah menjadi wanita pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat, tepat di halaman Diniyah Putri. Momen ini pun dikenang sebagai “pengibar pertama” di kawasan tersebut.
Bor Sis, legacy beliau sebagai pelopor pendidikan dan pejuang kemerdekaan tetap hidup lewat Diniyah Putri yang kini menjadi warisan budaya di Padang Panjang.
Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah yang menutup usia pada (26 Februari 1969) adalah legenda yang layak dikenang. Beliau membuktikan, bahwa hijab enggak menghambat semangatnya dalam berjuang. Sifat cerdas dan cintanya terhadap dunia pendidikan, patut menjadi contoh dan inspirasi untuk kita semua.
(BoRil)
BACA JUGA:
Kiromal Katibin Ukir Sejarah, Puncaki Ranking Dunia Speed Climbing
WoMind! Vendryana Ayu Larasati: Dari Dapur Jerman ke Panggung Digital Dunia