WoMind! Harum Fadhilatunnur: Wanita Indonesia di Dunia Teknologi Pangan - sociolifemedia.com
Connect with us

Techno & Edu

WoMind! Harum Fadhilatunnur: Wanita Indonesia di Dunia Teknologi Pangan

Harum Fadhilatunnur, S.T.P., M.Sc (Dok: pribadi)

SocioLife, Jakarta (10/09/2025) WoMind kali ini menghadirkan kisah Harum Fadhilatunnur, S.T.P., M.Sc., perempuan Indonesia yang meniti karier akademik lintas benua di bidang teknologi pangan. Kisahnya unik untuk kita kulik dan tentunya mampu menginspirasi kita semua Bor Sis Lifers. Ternyata berangkat hanya dari makanan itu bisa menjadi sesuatu ilmu yang lebih bermanfaat.

Berawal dari keingintahuannya yang besar tentang dunia makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia setiap hari, memiliki proses, nilai gizi, hingga dampak bagi tubuh,  wanita yang akrab disapa Harum ini menimba ilmu dan menuntaskan program (S1) Ilmu dan Teknologi Pangan, dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2013.

Harum Fadhilatunnur, S.T.P., M.Sc

Dari kampus IPB, Harum melanjutkan studi (S2) dengan beasiswa LPDP di Belanda, hingga kini menempuh doktoral alias PhD (S3) di Tohoku University, Jepang. Perjalanan ini menegaskan kiprahnya sebagai peneliti perempuan di sektor strategis yang masih jarang digeluti di Indonesia.

Saat menempuh studi di luar negeri, Harum terkesan dengan fasilitas riset yang jauh lebih maju dibanding Indonesia. “Di Belanda atau Jepang, pengujian sederhana seperti susu bisa selesai hanya dalam satu menit berkat peralatan canggih,” ujarnya ketika diwawancarai dengan tim Sociolife Media sembari bilang selain fasilitas, budaya kerja juga berbeda: Belanda menekankan work-life balance, sedangkan Jepang dikenal dengan etos kerja tinggi.

Menurut pendapat Harum, kalau di Tanah Air kita masih berfokus pada isu keamanan pangan, sementara Jepang sudah melangkah lebih jauh. Di sana, riset diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup, misalnya pangan yang mendukung relaksasi, kecerdasan, hingga memperlambat penuaan (aging).

Dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB ini menilai Indonesia dapat belajar banyak dari pendekatan tersebut. Bukan soal teknis riset, melainkan komunikasi lintas budaya menjadi tantangan terbesar. Di Jepang, interaksi lebih halus dan penuh kode sosial, sehingga keterampilan interpersonal sangat penting bagi peneliti asing.

Di masa datang Harum berharap pengalaman akademik dan risetnya di luar negeri bisa memberi dampak nyata di tanah air. Tidak hanya melalui ilmu, tetapi juga lewat kolaborasi industri, jaringan global, serta pemanfaatan potensi pangan lokal.

Pesan untuk Generasi Muda

Bagi Bor Sis Lifers di Indonesia yang mau tertarik dengan dunia keilmuan, terpenting harus punya passion dan komitmen. Dan memanfaatkan platform media sosial untuk mengedukasi diri dan masyarakat tentang keamanan pangan, hingga mengolah bahan lokal menjadi produk bernilai tambah.

“Jika mengonsumsi makanan enggak sehat, ujung-ujungnya jadi penyakit. Tapi kalau kita lebih sadar dan kreatif, pangan lokal bisa naik kelas dan bahkan diekspor seperti di Jepang,” tutupnya.

Setuju!

(BoRil)

BACA JUGA:

WoMind! Vendryana Ayu Larasati: Dari Dapur Jerman ke Panggung Digital Dunia

WoMind! Editia Herningtias: Bikin Bahasa dan Budaya Indonesia Mendunia

 

 

Trending

Editorial Team

         
             

Head Office

             

Antasari Park (2nd Floor)

             

JL Pangeran Antasari No.61

             

Cipete Utara - Kebayoran Baru

             

Jakarta Selatan

           
       
           

Contact Us

           

redaksi@sociolifemedia.com

       
 

Sociolife Media Copyright 2025