SocioLife, Jakarta (18/02/2026) Perhimpunan Aritmia Indonesia (PERITMI) menyebut jam tangan pintar alias smartwatch bisa jadi “alarm awal” untuk mendeteksi gangguan irama jantung atau aritmia — kondisi yang sering datang dan pergi tanpa gejala.
Dikutip dari Antara (14/02), menurut anggota PERITMI, dr. Ardian Rizal, Sp.JP(K), FIHA, aritmia termasuk kondisi yang tricky. Saat diperiksa di fasilitas kesehatan, hasil rekam jantung bisa saja normal. Padahal, di waktu lain, gangguan irama berbahaya bisa muncul.
“Aritmia itu hilang timbul. Saat dicek bisa normal, tapi di lain waktu muncul gangguan,” jelas dr. Ardian Rizal, Sp.JP(K), FIHA, dalam konferensi pers Pulse Day 2026 di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta.
Pemeriksaan rekam jantung (EKG) di klinik biasanya hanya berlangsung singkat. Artinya, kalau aritmia tidak sedang muncul saat itu, hasilnya bisa terlihat baik-baik saja.
Memang ada pemeriksaan pemantauan jantung 24 jam (Holter), tapi alat ini belum tersedia luas dan kurang praktis untuk skrining dalam jumlah besar.
Dengan sensor pemantau denyut jantung dan aliran darah, smartwatch mampu merekam detak jantung secara terus-menerus selama dipakai. Data yang terekam lebih panjang ini membantu menangkap gangguan yang tidak muncul saat pemeriksaan singkat.
Menurut dr. Ardian, perangkat ini cukup sensitif untuk skrining awal aritmia dan bahkan sudah masuk dalam rekomendasi panduan klinis sebagai alat bantu deteksi dini.
Meski begitu, hasil dari smartwatch tidak bisa langsung dijadikan diagnosis. Jika muncul notifikasi atau temuan mencurigakan, tetap perlu pemeriksaan lanjutan oleh dokter untuk memastikan diagnosis dan menentukan terapi yang tepat.
Jadi, buat Bot Sis yang aktif pakai smartwatch, fitur pemantau detak jantung bukan cuma gaya hidup sehat — tapi juga bisa jadi langkah awal mengenali risiko gangguan irama jantung lebih cepat.
(Boris)
BACA JUGA:
Air Kelapa: Minuman Natural Favorit Gen Z yang Bukan Cuma Segar
Volvo Golf Tournament 2026 Bukan Sekadar Kompetisi