SocioLife, Jakarta (11/03/2025) Di era serba digital ini, Bor Sis Lifers mungkin pernah baca caption di sosmed bahasa asing seperti FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once) atau FOBO (Fear of Better Option)?
Yup, istilah asing yang berkembang di kalangan Milenial dan gen Z itu bukan sekadar bahasa pergaulan atau keren-kerenan di tempat nongkrongnya anak gaul tetapi juga merupakan cerminan dari keadaan psikologis seseorang.
Singkat cerita dalam artikel ini SocioLife ingin mengupas apa itu FOBO dan bagaimana menyikapinya.
Melansir cloudcomputing.id, FOBO adalah bentuk kecemasan yang timbul ketika seseorang merasa kesulitan memilih karena takut membuat keputusan yang salah. Alih-alih segera mengambil keputusan, mereka justru menunda-nunda, berharap menemukan pilihan yang lebih baik. Akibatnya, mereka bisa kehilangan kesempatan yang ada di depan mata.
Dengan kalimat lain, seseorang yang menghadapi FOBO akan merasa kesulitan dalam memilih saat harus mengambil suatu keputusan.
Orang tersebut secara obsesif akan memikirkan semua pilihan yang ada karena takut kehilangan opsi “terbaik” dan menyesal kemudian hari. Dalam jangka panjang, sikap FOBO bisa menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari stres hingga menurunnya kualitas hidup.
Berikut tanda-tanda orang dengan sikap FOBO, sering melakukan riset berlebihan hingga lupa terhadap Kesehatan dirinya, suka mengganti pilihan saat dateline, nggak merasa puas walaupun pekerjaan sudah kelar, menyesali apa yang sudah disepakati masa sebelumnya.
Cara mengatasi FOBO adalah dengan menyadari gejalanya, membuat struktur prioritas dalam hidup Anda dan percaya akan keputusan yang telah diambil.
(Boris)